Menanti Ibukota Baru: Terimakasih dan Selamat Tinggal Jakarta

Jakarta, Ibukota saat ini (2019) - Photo by ekoherwantoro on Unsplash
Ibu. Sosok penting dalam semua skenario hidup semua orang di dunia. Mulai dari manusia biasa sampai tokoh-tokoh penting dunia. Semuanya merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ibu selalu saja khawatir jika anaknya tak mampu menaklukkan hidup. Dia akan selalu siap memandu agar sang anak bisa mandiri dan bermanfaat bagi orang banyak. Ibu juga orang yang paling terencana. Semua hal tak luput dari perhitungan dan perencanaannya. 

Mungkin, itulah alasan mengapa kota sentral yang dijadikan pusat pemerintahan di dunia diberi nama Ibukota. Karena Ibukota menanggung beban yang sangat berat di pundaknya. Terutama fungsi perencanaan. Ibukota menjadi pusat perencanaan semua kota dan kabupaten diseluruh Indonesia. Lokasi dimana Presiden Republik Indonesia berdiam diri mengatur siasat dan mengendalikan perintah untuk Indonesia yang berkemajuan. 

Jakarta dan Permasalahannya

Jakarta. Ibukota Indonesia sejak zaman Kolonial Belanda yang ditetapkan ulang oleh Presiden Sukarno lewat Undang-Undang No 10 Tahun 1964 dianggap oleh banyak ahli sudah tidak layak menjadi Ibukota negara karena beberapa alasan. Misalnya Jakarta langganan banjir, kemacetan dimana-mana, penurunan muka tanah dan seterusnya. Ringkasnya. Meninggalkan Jakarta yang sudah tidak ramah adalah solusi.

Mari kita bahas. Menurut saya, apa yang terjadi di Ibukota saat ini adalah karena perkembangan Jakarta sangat pesat sejak Indonesia masih dibawah kaki penjajah hingga Indonesia merdeka. Perkembangan ini mengalahkan para perencana tata kota dan Pemerintah Kota Jakarta yang sibuk berbenah pasca penjajahan dan deklarasi kemerdekaan. Mereka dikalahkan oleh laju urbanisasi masif masyarakat desa yang mencoba mengadu nasib ke kota. Sehingga pembangunan kawasan pemukiman dan perkantoran menjadi tidak terkendali.
Jakarta krisis Air - Photo by Sander Wehkamp on Unsplash
Bagaimana dengan ruas jalan, sistem drainase air, dan ruang terbuka hijau ?. Terabaikan. Tentu saja. Karena yang menjadi prioritas utama adalah kebutuhan dasar berupa tempat tinggal dan tempat mencari nafkah. Parahnya. Realitas ini dibiarkan cukup lama dan tidak segera dicarikan solusinya. Dampak dari ini adalah terjadi kepadatan dimana-mana. Menghambat pergerakan manusia kota yang membutuhkan mobilitas yang tinggi. Bahkan Pemerintah Pusat mencatat terdapat opportunity cost (biaya kesempatan yang hilang) akibat kemacetan sebesar Rp. 65 T. 

Walaupun demikian, kita patut berterimakasih banyak kepada Jakarta atas dedikasinya selama menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia. Menjadi wajah dan representasi Indonesia di mata dunia. Maksud Pemerintah Pusat memindahkan Ibukota Negara adalah agar Indonesia yang sudah mapan sebagai negara yang merdeka dan berdaulat dapat merencanakan tata kota yang detil bagi ibukotanya sendiri. Tata kota ini direncanakan sedemikian rupa. Melibatkan para ahli tata kota yang menghitung semua kebutuhan kota yang layak huni. 

Ibukota Baru, Ibukota yang Terencana

Selayaknya Ibu. Ibukota harus bergerak cepat dalam mengambil keputusan. Karena keputusan yang dihasilkan akan memengaruhi seluruh kota dan kabupaten di Indonesia. Oleh karena itu, saya mendambakan Ibukota baru nanti adalah ibukota yang terencana tata ruang dan infrastruktur dasarnya. 

Dimulai dari jalan-jalan raya. Prediksi jumlah penduduk dihitung sedemikian rupa sehingga pembangunan jalan secara bertahap dapat direncanakan dengan matang. Transportasi publik juga di jadikan prioritas utama sebagai infrastruktur dasar kota. Jangan sampai seperti Jakarta yang pembagunan transportasi publiknya terlambat. Dibangun disaat kota sudah penuh sesak dengan pemukiman dan perkantoran sehingga sulit untuk membangun koneksivitas antar satu tempat dengan tempat lainnya. 

Zonasi wilayah juga penting. Saya berharap Ibukota baru nanti tegas terdahap rencana tata ruang kotanya. Tidak boleh adan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di lahan yang tidak sesuai. Misalkan di zona khusus lahan terbuka hijau tidak boleh ada IMB pemukiman. Dengan begitu maka Ibukota akan tetap terlihat cantik dan rapi. 

Sistem drainase dan pengelolaan sampah juga harus di fikirkan sejak awal. Air akan selalu ada selama tanah masih ada. Tugas pemerintah sebetulnya hanya memastikan air mendapatkan tempatnya karena air dan tanah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus seimbang. Menghilangkan tempat penampungan dan aliran air tidak akan menghilangkan air itu sendiri. Oleh karena itu terjadi banjir karena air akan tetap datang. Alhasil air menggenangi ruas-ruas jalan dan pemukiman warga. Pengelolaan sampah juga penting untuk di rencanakan sejak awal. Karena setiap ada aktivitas manusia pasti menghasilkan sampah. Pengelolaan sampah yang baik akan menjaga dan memastikan sampah bukanlah masalah klasik kota. Tetapi aktivitas yang biasa dan bahkan menghasilkan value added baru seperti kompos dan biji plastik.

Muara akhir dari semua perencanaan ini adalah agar Pemerintah Pusat dapat memanfaatkan waktu dengan efisien. Tidak ada waktu yang terbuang percuma karena kemacetan dan banjir di jalanan Ibukota. Pertemuan-pertemuan penting dapat dimulai dan dihadiri oleh pejabat-pejabat terkait tepat pada waktunya. Budaya tepat waktupun bisa dimulai dan dipopulerkan dari Ibukota baru ini. Dengan harapan tersebar ke seluruh Indonesia dan menjadi kebiasaan umum. 

Sehingga Ibukota baru benar-benar menjadi pusat pemerintahan yang siap memberikan instruksi berbobot dan berdampak positif bagi seluruh rakyat Indonesia demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terimakasih dan selamat tinggal Jakarta.
Menanti Ibukota Baru: Terimakasih dan Selamat Tinggal Jakarta Menanti Ibukota Baru: Terimakasih dan Selamat Tinggal Jakarta Reviewed by katamahdi on July 29, 2019 Rating: 5

4 comments:

By carapista said...

dimanapun ibu kota yang baru dengan konsep yang baru pula semoga Pemerintah Pusat bener2 padat karya ya kak

Latifah Kusuma said...

Keren ini kalau moda transportasi umum dijadikan sarana utama bagi kelangsungan hidup masyarakat

katamahdi said...

Iya. Apalagi moda transportasinya terintegrasi satu dengan lainnya. Mulai dari turun dari rumah sampai ke tempat tujuan (kantor, pasar, sekolah, dst). Tidak lagi ber macet ria di jalanan ibukota. :)

Anggita Diah Hadi Ratnasari said...

Semoga ibukota yang baru nanti ramah lingkungan dan tata kotanya bisa tercipta sesuai rencana ya.

Berkomentarlah dengan baik dan bijak

Powered by Blogger.