Refleksi: Andai Rasullullah Masih Bersama Kita

[caption id="attachment_943" align="aligncenter" width="1506"]khalid_ibn_al-waleed_battle_warrior_islam_sword_of_allah IIlustrasi Peperangan[/caption]

Dunia sedang dihebohkan oleh berita yang bertentangan dengan pri-kemanusiaan. Masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi dari perang saudara yang sudah larut hingga 6 tahun belakang justru menjadi sasaran bidik tentara Suriah dibawah kepemimpinan Bashar Al-Assad.

Sebagaimana yang dilansir Tribun Pontianak (7/4) bahwa Bashar Al-Assad mengatakan tidak punya pilihan lain kecuali (mencapai) kemenangan karena menurutnya jika rezimnya tidak memenangkan perang ini, Suriah akan hilang dari peta.

Satu hal yang menjadi sorotan tajam dan sangat disesalkan dunia adalah terbunuhnya 30 orang anak-anak dari total korban serangan senjata kimia yang hingga kini belum ada pihak yang mau mengakui dan bertanggung jawab. Memang tidak ada darah yang tertumpah, tapi udara yang terkontaminasi senjata ini menyiksa dalam diam. Suasana di kota Khan Seikhun Provinsi Idlib yang berbatasan langsung dengan turki ini kini dirundung duka. Salah satu dari korban, Youssef, seorang pria Suriah kehilangan 25 anggota keluarganya termasuk istri dan dua anak kembarnya yang masih berusia 9 bulan.

Perang saudara antara rezim Bashar Al-Assad dengan pemberontak yang tak lain adalah warga Suriah itu sendiri adalah perang yang tak bermanfaat. Egoisme seorang manusia dan kekuasaan tampak jelas mewarnai sekat-sekat kota. Padahal Suriah adalah kota mulia, dulu dizaman Islam berjaya hingga dimasa Rasulullah Muhammad SAW

Andai Rasulullah masih bersama kita, tidak akan ada pembenaran atas pembunuhan rakyat sipil (orang tua, orang yang tidak ikut berperang, perempuan, dan anak-anak) seperti yang kita lihat sekarang. Semakin canggih alusista (alat utama sistem senjata) sebuah negara maka semakin luas pula sasaran bidiknya. Tak pandang bulu. Selain lawan perang (tentara) juga dilibas habis.
Rasulullah dulu dikala memimpin perang penuh dengan kesantunan. Beliau bertitah pada prajuritnya jangan menyerang jika tidak diserang, jangan merusak pohon, jangan membunuh lansia, perempuan dan anak-anak dan jangan berlebihan. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan kenyataan peperangan yang masih terjadi di belahan bumi khususnya timur tengah, Suriah.

Andai Rasulullah masih bersama kita, konflik antar saudara sehingga berbuntut pada perang saudara seperti di Suriah tidak akan terjadi. Beliau terbukti dengan mudah atas izin Allah meredakan suku-suku di jazirah arab kala itu yang juga senang berkonflik hingga angkat senjata antar suku.

battle2brules2bby2bprophet2bmuhammed2bpbuh

Andai Rasulullah masih bersama kita, jalan keluar berupa berusaha menjadi pemenang tidak akan menjadi pilihan pertama dan utama, karena kita tahu bahwa Rasulullah hanya akan memilih berperang jika tidak ada cara lain. Itu artinya jalan damai seperti peristiwa perjanjian Hudaibiyah dengan membawa 1.400 orang untuk menunaikan umrah lengkap dengan sejata untuk berjaga. Apa yang terjadi ?. Rasul dan rombongan menang tanpa berperang. Berhasil masuk ke Makkah walaupun di tahun berikutnya tanpa pertumpahan darah dan Islam tampil sebagai negosiator ulung dan disepakatilah 7 poin kesepakatan yang disebut perjanjian Hudaibiyah. Para kepala negara dan panglima perang negara-negara yang saat ini berkonflik harus belajar banyak dari orang yang paling berpengaruh di dunia ini. Rasulullah Muhammad SAW.

Andai Rasulullah masih bersama kita, duka Youssef yang kehilangan 25 anggota keluarga bahkan istri dan anak kembarnya yang baru 9 bulan menemaninya insyaallah tidak akan terdengar lagi. Karena dunia akan sadar jika perang bukanlah pilihan yang solutif tapi destruktif, menghancurkan bukan hanya fisik tapi juga impian dan harapan hidup. Masih banyak Youssef-Youssef lain di Suriah dan entah berapa banyak lagi kisah pilu ini harus kita dengar.

Semoga cita-cita pendiri bangsa ini, Indonesia, “...penjajahan diatas dunia harus dihapuskan...” dimudahkan dan dikabulkan olehNya. Semoga tidak lagi kita dengar kabar-kabar duka dari saudara-saudara kita disana.

(Fadhil Mahdi – Duta Baca Kalbar 2016, Aktivis IMM)
Refleksi: Andai Rasullullah Masih Bersama Kita Refleksi: Andai Rasullullah Masih Bersama Kita Reviewed by katamahdi on April 06, 2017 Rating: 5

No comments:

Berkomentarlah dengan baik dan bijak

Powered by Blogger.