Adil Tak Selalu Sama Rata Sama Rasa

[caption id="attachment_950" align="aligncenter" width="1920"]A $lodier's Dream HD Desktop Background Ilustrasi Menggapai Asa[/caption]


Fadhil Mahdi


Pagi itu matahari tampak malu. Sinarnya perlahan merayap diatas dedaunan jalan Siantan Hulu yang tepat berada ditepian kota Pontianak. Embun pagi enggan beranjak dari udara, menyejukkan dan menggenang diatas daun. Minal bersiap dengan seragam dan toganya. Berangkat menuju kampus tempat selama ini menimba ilmu.

Rasa haru dan bangga menyeruak setiba di tempat wisuda. Desau angin menemani hilir mudik keluarga mahasiswa yang tak lama lagi akan diwisuda sebagai sarjana dan pasca sarjana IAIN Pontianak. Canda tawa juga tampak diwajah – wajah para wisudawan dan wisudawati. Jepretan kamera berlomba – lomba mengabadikan momen sekali seumur hidup ini.

Minal adalah salah satu dari ratusan wisudawan dan wisudawati. Ia tercatat menyelesaikan studi 4 tahun 1 bulan di jurusan Pendidikan Agama Islam. Ditengah keterbatasan fisik, semangatnya tak pernah padam. Delapan semester dilalui. Setara mahasiswa rata – rata yang tak kurang satu apapun difisiknya. Minal yakin betul kalau fisik tak layak dijadikan alasan untuk diam.
***
Hari beranjak terang. Minal mulai berjalan kesekolah yang tak jauh dari rumah, kira – kira 5 menit jalan kaki. Sejak kecil bukan tidak banyak ejekan dari teman sebaya akan fisik yang ia miliki. Tapi tak sedikit juga teman yang mengerti dan paham. Sempat ditolak dibeberapa sekolah formal dan akhirnya diterima juga.

Lonceng tanda masuk menggema hingga ke jalan raya depan sekolah. Minal bergegas mempercepat langkah kaki dan beruntung tak termasuk dalam golongan siswa yang telat. Tak dirasa jam pelajaran berlalu dan tiba waktunya istirahat. Murid – murid SD berhamburan keluar kelas mencari aktivitas lain. Termasuk Minal. Sayangnya tak semua murid bersedia menjadi partner bermain Minal. Tapi untungnya tak sedikit pula yang bersedia. Ejekan – ejekan kerap kali mampir ditelinganya. Terkadang membuatnya marah namun ada juga yang dianggapnya angin lalu.

Lulus SD saja dirasa belum cukup. Minal melanjutkan studi ke jenjang SMP yang juga tak jauh dari rumah. Cukup 7 menit bersepeda. Atmosefer yang sama juga terulang saat SMP. Lagi – lagi ejekan teman yang acap kali terdengar. Tapi Minal berhasil membantah itu semua dengan lulus SMP sama seperti mereka.

Lagi – lagi lulus SMP saja dirasa belum cukup. Ia lanjutkan ke tingkat SMA. Kali ini lokasi menimba ilmu tak lagi dekat dari rumah. Butuh 15 menit untuk sampai disana. Minal tak lagi dapat mengayuh sepedanya apalagi mengayunkan langkah kaki alias berjalan. Ayah. Satu – satunya orang yang setia mengantar dan menjemputnya.

Semasa sekolah tak sedikit sekolah yang ragu. Mereka menyarankan Minal untuk masuk kesekolah khusus (baca: SLB). Tapi tidak. Minal menolak. Ia yakin ia bisa dan mampu bersekolah bersama siswa – siswa normal lainnya.
***
Pendidikan tinggi saat ini menjadi magnet bagi banyak lulusan sekolah menengah atas dan sederajat. Menjadi suatu yang lumrah untuk melanjutkan studi ke jenjang maha-siswa ini. Minal sejak dulu sudah memikirkan ini. Bahkan lists nama perguruan tinggi sudah ia pegang dan timbang. Kali ini tak ada satupun perguruan tinggi tersebut menolak dan menyarankan ke sekolah khusus seperti waktu SMA lalu. Karena memang belum ada perguruan tinggi khusus seperti SLB.

Lagi – lagi Minal tak dapat mengayuh sepedanya apalagi jalan kaki. Alhasil antar – jemput selama 8 semester ia lalui dengan sabar. Kuliah, tugas, dan aktivitas lain ia ikuti seperti kebanyakan mahasiswa lain. Pengabdian pada masyarakat (baca: KKN-Kuliah Kerja Nyata), praktek mengajar (baca: PPL) Minal jalani walau dengan perlakuan khusus dari pihak kampus. Setidaknya setara dengan yang dilakukan mahasiswa lain.
***
Minal membuktikan bahwa setiap manusia punya hak mendapatkan ilmu tanpa memandang keterbatasan fisik yang mereka miliki. Karena manusia tidak boleh berhenti berfikir hingga ajal menjemput. Berfikir hanya dapat dimaksimalkan dengan belajar baik formal maupun non-formal. Belajar di institusi – institusi pendidikan hanyalah salah satu proses memaksimalkan potensi berfikir manusia. Selama manusia tersebut dapat berfikir maka haknya untuk mengakses pendidikan harus diberikan. Ironi rasanya jika haknya untuk belajar dirampas hanya karena memiliki keterbatasan fisik.

Minal hanyalah salah satu dari teman – teman difabel yang berjuang menjalankan hidup bak orang – orang normal. Minal menunjukkan bahwa variabel adil dalam hidup bukan terletak pada kesempurnaan fisik. Buktinya ia dapat meraih gelar sarjana sama seperti mereka yang normal. Adil tak selalu berarti sama rata sama rasa. Adil adalah menempatkan hal sesuai tempat dan porsinya. Ibarat sebuah kelas diisi oleh kumpulan hewan yang sedang belajar. Ada ikan, kucing dan monyet. Guru mengajarkan muridnya cara memanjat dan memaksa mereka semua harus bisa mempraktekkan teori yang diajarkan. Tebak siapa yang paling jago ? Ya, monyet. Kucing dan ikan pasti akan kalah bahkan tak bisa. Ini analogi yang tepat bagaimana definisi adil yang keliru. Andai saja guru mampu melihat kelebihan dan kekurangan masing – masing murid dan hanya fokus pada kelebihan mereka maka inilah yang disebut adil. Tidak sama rata secara fisik namun secara esensi. Esensi belajar dan menuntut ilmu. Menyesuaikan porsinya masing – masing.

albert-einstein-quotes-genius1

Cara pandang ini akan menyadarkan kita bahwa mereka, kaum difabel ada disekitar kita. Bagian dari masyarakat dan negara. Fisik bukan penghalang apalagi alasan untuk membeda – bedakan karena yang terpenting adalah esensi dari fisik tersebut. Sebagai contoh, orang yang terlahir tanpa tangan namun ia masih dapat “menggenggam” maka sama saja. Sama – sama menjalankan fungsi tangan.




*cerita diatas diambil dari kisah nyata abang kandung, Minal Ridho (24) dari penulis yang tuna daksa: memiliki keterbatasan fisik pada kaki (jingkat/pincang) sedari kecil. Beliau hanya butuh pegangan jika berjalan jauh, tidak kalau dekat.

*cerita ini adalah salah satu naskah terpilih dalam lomba menulis nasional Difabel di Sekitar Kita tahun 2016 dan di Bukukan dalam antologi artikel.

 
Adil Tak Selalu Sama Rata Sama Rasa Adil Tak Selalu Sama Rata Sama Rasa Reviewed by katamahdi on April 04, 2017 Rating: 5

No comments:

Berkomentarlah dengan baik dan bijak

Powered by Blogger.