Membaca Makna dibalik Peresmian Empat Rumah Baca di Empat Taman Kota Pontianak

[caption id="" align="aligncenter" width="570"] Rumah Baca di Taman Alun Kapuas[/caption]

Isu literasi khususnya membaca beberapa tahun terakhir mendapat sorotan tersendiri dari publik dan pemerintah. Dimulai dari terpilihnya presenter kondang yang terkenal cerdas. Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia (2016-2020) berdasarkan seleksi dewan juri dan usulan masyarakat melalui laman online yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional RI. Di kancah regional Kalimantan Barat juga terjadi hal yang sama. Untuk pertama kalinya UPT Perpustakaan ‘merayakan’ hari kunjungan perpustakaan yang jatuh tiap tanggal 14 September dengan menggelar Kampanye Bulan Cinta Perpustakaan yang ditutup dengan perhelatan Kalbar Book Fair yang berhasil mendatangkan ribuan pengunjung dan pemilihan Duta Baca Kalbar untuk pertama kalinya.

Kota Pontianak selaku ibukota Kalimantan Barat juga tak mau kalah. Sutarmidji, Walikota Pontianak membangun empat rumah baca yang satu diantaranya khusus rumah baca digital (taman Untan-Polnep) di empat taman kota (taman Alun-Alun Kapuas, taman Digulis, taman Akcaya dan taman Untan-Polnep) yang menjadi fokus pembangunannya saat ini, yaitu memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar indeks kebahagiaan masyarakat meningkat. Empat rumah baca dibawah Perpustakaan Kota ini akan diresmikan hari ini (28/2).

Peresmian empat rumah baca di ibukota provinsi ini penuh makna. Tergantung siapa dan dari mana sudut pandangnya. Namun yang jelas. Komitmen pak walikota yang juga Tokoh Baca Kalbar 2016 ini menjadi hadiah yang mampu melebarkan senyum dan melegakan nafas para pegiat literasi baik yang bergerak di ranah menulis maupun membaca yang selama ini tanpa ada perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah tetap terus berjuang tanpa lelah menyebarkan semangat membaca ke seluruh lapisan masyarakat. Tak peduli status, suku dan agama. Semangat merayakan buku dengan membaca jadi penyemangat mereka.

Makna pertama: (akhirnya) pemerintah sadar kalau membaca itu penting

Membaca itu sebenarnya aktivitas yang mudah dan simpel. Kita hanya butuh sebuah bahan bacaan dan mulai membaca kata demi kata. Tapi banyak hasil survei membuktikan bahwa minat baca Indonesia berada di level kritis alias paling bawah dari negara-negara lain. Misalnya saja survei yang keluarkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 dengan tajuk studi “Most Littered Nation In the World” menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara. Persis di bawah Thailand (59).

Perhatian yang berujung pada aksi nyata pemerintah belakangan ini adalah tindakan yang tepat walau agak sedikit terlambat. Sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945, “...mencerdaskan kehidupan bangsa..” mewajibkan pemerintah menaruh perhatian penuh pada satu kebiasaan emas (baca: membaca) ini.

Kalau saja pemerintah sejak dulu sadar kalau membaca itu penting pasti saat ini toko-toko buku menjadi pemandangan yang lumrah di sudut-sudut kota dan berdampak langsung pada kemajuan kota. Persis seperti kata Yunsirno, penulis Kalbar, penemu metode Kampoenk Jenius dalam bukunya Keajaiban Belajar. Satu hal yang membuat Jepang dapat bangkit dalam waktu yang relatif singkat paska bom Nagasaki dan Hiroshima adalah saat kaisar Meiji (baca: pemerintah) sadar kalau kemajuan negara tidak bisa hanya mengandalkan “samurai” tapi harus dengan ilmu yang sumber utamanya dari membaca buku. Pendekar samurai yang biasanya bermain pedang dan mengasah fisik berubah menjadi kutu-kutu buku. Bahkan Jepang waktu itu mendirikan badan khusus yang bertugas meneliti buku-buku yang diterbitkan Barat untuk dipelajari dan dikembangkan di Jepang. Lihatlah hasilnya sekarang. Jepang jauh melesat meninggalkan negara-negara lain termasuk kita.

Peresmian empat rumah baca di empat taman favorit masyarakat Pontianak ini semoga menjadi simbol bangkitnya ibukota ini seperti kaisar Meizi pada zamannya.

Makna kedua: Pontianak jadi barometer buat kota/kabupaten lain

Pontianak adalah ibukota Kalbar. Itu artinya apapun yang terjadi di kota ini menjadi sorotan bagi daerah-daerah lain di Kalimantan Barat. Langkah Pak Sutarmidji meletakkan rumah baca di taman kota yang “elegan” dan titik kumpul masyarakat baik itu sendiri, bersama teman atau komunitas dan bersama keluarga adalah langkah tepat dan sangat strategis. Seringkali rumah baca didirikan ditempat yang terkesan seadanya.

Langkah ini mengandung pesan kepada kepala-kepala daerah di 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar bahwa membaca yang disimbolkan dengan rumah baca dan buku tidak boleh disepelekan. Harus diberi perhatian penuh dan diletakkan kedalam skala prioritas.

Saking pentingnya membaca, John Wood (mantan eksekutif Microsoft) bercerita dalam bukunya ia rela meninggalkan pekerjaannya di perusahaan teknologi dunia dan mendirikan perusahaan nirlaba Room to Read untuk mendirikan ruang-ruang baca yang penuh dengan buku di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Nepal, tepatnya di pegunungan Himalaya adalah negara pertama diawal karirnya di Room to Read dan akhirnya berhasil membangun 7.000 perpustakaan di pelosok-pelosok dunia.

Kepedulian pemerintah ini dimulai dari Pontianak dan harus segera menyebar ide dan semangatnya ke daerah-daerah lain di Kalbar.

Makna ketiga: menanti manfaat empat rumah baca ditaman kota

Peresmian rumah baca oleh pak walikota barulah awal dari perjalanan pemerintah menyebarkan semangat membaca di masyarakat Pontianak. Dampak dan manfaat baru akan terasa nanti setelah waktu mulai berjalan seiring dengan pemanfaatan dan pengelolaan rumah baca ini. Kabar baiknya nanti akan ada komunitas yang bergerak dibidang membaca/literasi yang diberikan “ruang” dimasing-masing rumah baca agar bertanggung jawab dan menghidupkan rumah baca dimasing-masing taman kota.

Manfaat langsung yang harus didapatkan masyarakat yang mungkin sudah sering memanjakan diri dan keluarga di taman-taman kota tersebut adalah mereka sadar kalau ada rumah baca disana dan rumah baca menjadi “ruang” yang menyenangkan dan ngangenin. Kita berharap rumah baca ini tidak menjadi “penjara buku” atau “gudang buku” yang jadi sekedar pemanis dan pelengkap taman kota.

Ketika manfaat diatas sudah dirasakan maka masyarakat akan senang dan hasrat untuk menambah pengetahuan, informasi dan imajinasi akan tumbuh dan dilampiaskan dengan membaca buku-buku yang tersedia rapi di rumah baca yang ada. Jika kondisi ini terjaga dan terduplikasi oleh banyak daerah di Kalbar maka bukan tidak mungkin target nasional dari Perpustakaan Nasional RI: Indonesia Gemar Membaca 2019 dapat tercapai.

*Fadhil Mahdi

(Duta Baca Kalbar 2016, Book Blogger, koordinator komunitas Sahabat Buku)

Tulisan ini pernah dimuat di Pontianakpost.co.id
Membaca Makna dibalik Peresmian Empat Rumah Baca di Empat Taman Kota Pontianak Membaca Makna dibalik Peresmian Empat Rumah Baca di Empat Taman Kota
Pontianak Reviewed by katamahdi on February 26, 2017 Rating: 5

No comments:

Berkomentarlah dengan baik dan bijak

Powered by Blogger.